Kora Kora

 1


Orang bilang, ‘enak kamu sudah sukses kerjanya, rumah sendiri, anaknya juga pinter banget’. Tentulah aku sudah sukses sekarang, bahagia hasilku sendiri, dan tidak mudah mengurus anak sendiri. Tapi tentu saja orang berucap tidak hanya bagusnya saja bukan, pasti ada kata tapi dan kenapanya, ‘tapi kenapa kamu tidak menikah lagi, kenapa sih kamu berecerai, kenapa ini, kenapa itu dan seterunya. Lelah memang kalau terus menerus mendengar mereka bertanya dan semakin bertambah lelah kalau di masukan kedalam hati. Namun, seiring berjalannya waktu ‘waktu memang menyembukan dan menguatkan apapun’ aku semakin tegar dan semakin pintar untuk menanggapi apapun.
Aku yang dulu mungkin tidak akan pernah terfikir jika di masa depan  akan menjadi seperti sekarang ini, aku yang seperti orang bilang. Aku yang dulu mungkin tidak akan menyangka juga, seorang istri dan ibu rumah tangga asli ibu rumah tangga yang mendedikasikan hidupnya untuk suami dan anak akan menjadi sukses yang bahagia seperti sekarang.

Kalau dihitung sudah hampir tiga tahun saya menyandang status single mom, dan sudah selama itu juga saya tidak pernah memikirkan untuk melepas status sebagai single mom. Ada memang satu saat untuk menikah lagi, ketika ada yang mencoba mendekati- gini juga masih banyak yang mau yah- atau beban berat yang membuat stress datang. Tapi ketika ingat kenapa bias sampai bercerai semua keinginan untuk menikah lagi sirna.



Aku menikah pada saat umur 24 tahun, terbayangkan umur berapa sekarang,. Aku menikah bukan karena paksaan ataupun perjodohan, tapi pure karena memang sudah siap untuk menikah. Sebelum memutuskan untuk menikah aku pernah berpacaran lama dengan Rama, yah namanya Rama, Rama Irwan. Kita pacaran semenjak kuliah, kita bertemu di salah satu organisasi kampus dan dari situ kita saling kenal sebagai teman dan berlajut dengan menjadi pacar.

Namun, setelah dua tahun berpacaran kita memutuskan untuk berpisah dengan baik baik tentunya. Alasan mengapa kita putus karena kesibukan masing-masing dan saat itu memang Rama adalah senior dan lulus lebih dulu kemudian dia bekerja di ibu kota sedangkan aku masih kuliah sibuk juga menyesaikan skripsi. Lelah memang jika memiliki hubungan jarak jauh, apalagi sebelunya sudah terbiasa berdekatan. Kepercayan dan komunikasi menjadi taruhan. Jika dua hal itu tidak berjalan berpisah adalah keputusan yang rasional.
Yah, setelah kita putus tidak juga kita putus kontak, terkadang kita masih saling berkomunikasi satu sama lain. Aneh bukan, ketika kita masih dalam status pacaran, susah sekali untuk berkomunikasi, ada saja alasan ini dan itu, tapi ketika putus, komunikasi kita sangat lancer (pernah gtu ga?) .
Setelah lulus aku dapat pekerjaan di Jakarta dan komuniksiku dengan Rama sempat terputus, benar sibuk dengan pekerjaan dan kehidupan social masing-masing membuat kita jarang komunikasi ‘walau satu kota’ dan aku dengar juga kalau Rama sudah ada pacar baru jadi aku fikir buat apa saling komunikasi kan, sudah bukan tempatnya lagi.
Setahun kemudian, kita dipertemukan lagi bagai takdir mamang di resepsi pernikahan teman yang memang kita berdua kenal, sering menghadiri acara pernikahan tapi hanya saat itu kita bertemu lagi. Kecanggungan dan nostalgia yang membawa kita pada memori lalu membuat kita menjadi dekat kembali setelah pertemuan itu. Selang enam bulan kemudian Rama memintaku untuk menikah dengan dia. Memikirkan sudah lama mengenal Rama dan sudah tahu bagaimana dia membuatku menerima lamaran itu, dan kitapun menikah.  Bahagia memang awal yang indah penuh doa dan harapan baik namun itu tidak berlangsung lama setelah orang ketiga masuk dalam bahtera kita, orang ketiga itu tidak lain adalah mantan sahabatku sendiri Nira.
 


Komentar